Perlu Setting CO Berapa sih Knalpot Daytona GP Taper di R15 ?

Awalnya masih enjoy dengan knalpot standar, namun setelah touring 1300 km kemaren kesimpulan yang didapat tenaga kurang plong dan bunyi knalpot yang terlalu senyap sering bikin pengendara lain kaget saat di overtake, belum lagi ibu-ibu maupun cabe alay yang naik motor seenak udelnya pindah jalur tiba-tiba tanpa isyarat tanpa tahu ada moge motor dibelakangnya akibat bunyi yang senyap seperti matic….

Hasil surfing menunjukkan ada beberapa knalpot yang layak dipilih, tentunya yang ori punya…ga masalah murah yang penting asli,eh…. merk lokal ada Prospeed (ada versi MF yang lehernya pendek, model OK, harga mayan), R9, Sakura dll…merk luar ada Leovince, Yoshimura Japan (harga mayan…mayan mahal maksudnya hehe).

Akhirnya dengan pilihan yang masih belum ditentukan dan hati yang masih galau, saya menyambangi dealer untuk ganti kampas rem depan yang sudah tipis sekali bagian dalamnya (KM baru 8rbuan), akibat late brake habis-habisan dalam touring 1300 km untung ga ndlosor…saat nunggu motor masuk R Pit, ada display knalpot yang disinyalir untuk R15, merknya Daytona, stainless, simpel,slim dan silencer agak kecil menandakan suaranya nyaring biasanya. Iseng-iseng nanya dan harganya cukup terjangkau Rp 1,46 jutas, liat review sekilas di google kayaknya cukup worthed akhirnya langsung beli dan pasang saat itu juga.

 

images
penampakan silencer Daytona GP Taper Competition, pendek dan slim

Sebelum beli SM cek ternyata sudah ada DB killer terpasang dimoncong knalpot, SB minta perbandingan suara saat pake DB killer dan saat dilepas sama mekaniknya dan…klang…klang…cringg…bunyi obeng beradu…akhirnya terpasang juga.

Kesimpulan awal saat pakai DB killer suara cukup nyaring saat langsam ngebass, dan sedikit seperti suara angin bocor, saat ditarik suaranya mendadak garang dan lebih bernuansa “vrrrooom…” Sejurus kemudian DB dilepas dan wuih…garang dari langsam masvroh….ngebass tapi lebih DUM…DUM…DUM…apalagi pas ditarik alamakjaaann…jamin bikin orang langsung minggir dari jalanan, entah sambil takut atau maki-maki dalam hati…wkwkwk….

Skip….skip…SB putuskan ga pake DB killer dulu biar tau rasanya, oya setting CO setelah ditest jalan mekanik jadi +5, SB sih oke-oke aja, setelah bayar di kasir maka motor bisa dibawa pulang untuk ditest sendiri.

20160408_104738
setting CO dulu

Oya sekilas mengenai apa setting CO ini adalah memperbanyak debit bensin di ruang bakar, kalau di motor karburator seperti FXR saya dulu, setting ini dilakukan lewat spuyer karburator…istilahnya “diborosin/ dibasahin” karena knalpot freeflow ini membuat mesin dan settingan AFR (air to fuel ratio/ rasio udara-bensin) berbeda dari standar jadi harus disesuaikan supaya tarikan tetap enak, knalpot ga nembak, ga brebet dan ring piston juga lebih awet. Indikatornya salah satunya bisa dicek dari kepala busi, kalau agak putih berarti terlalu “lean” atau kering, sementara kalau terlalu hitam artinya terlalu basah, yang sempurna merah bata/ kecokelatan.

spark-plugs-guide
kepala busi dengan berbagai pembakaran

Setelah ditest jalan beberapa hari nampaknya masih kurang enak, untuk RPM memang cepet bener naiknya dibanding masih standar dulu, cuma sedikit masih ada gejala mbrebet dan nembak ternyata….akhirnya SB sambangin dealer lagi dan minta setting ulang CO nya. Busi dilepas daaan, warnanya keputih-putihan dengan kerak putih di bagian headnya yang menandakan settingan masih terlalu kering. Akhirnya CO ditambah lagi menjadi +10 dan SB dipersilakan test lagi kalau masih kurang cocok bisa balik ke dealer lagi…oya SB akhirnya memutuskan untuk pake DB killer supaya lebih adem sedikit dan memang di RPM 7.000-8.000 kalau speed konstan suara knalpotnya jadi halus banget, tarikan juga OK, tenaga lebih keluar dibanding pake knalpot standar dulu, dan ibu-ibu matic juga langsung minggir kalau motor SB tarik,hehehe…. ini video contoh suara saat terpasang di motor SB (pake DB killer).

Kesimpulan yang didapat pake knalpot Daytona ini antara lain :

  1. Model knalpot slim, ringan, silencer kecil membuat keseksian banana arm terekspose.
  2. Tarikan lebih enak dibanding standar, tentunya dengan setting yang pas.
  3. DB killer masih kurang optimal, suara di RPM bawah seperti ada yang bocor…mblebek gitu…
  4. Harganya cukup terjangkau untuk ukuran knalpot ori resmi Yamaha
  5. Suara cukup nyaring namun tidak pecah, kalau mau suara lebih adem bisa modif DB killer nya atau beli yang tipe GP Taper Slash yang silencernya lebih panjang dan gede…

 

Advertisements

Darurat !! Bearing Kopling Yamaha MT25 Pecah, Substitusi Bisa Pake Punya…

Kisah ini diangkat dari kejadian nyata…kesamaan tokoh maupun motor bukan kebetulan, pihak yang terlibat tidak tahu kejadian ini SB jadikan bahan blog (tapi lama-lama pasti tau,mwahaha…) semoga bisa diambil manfaat dan hikmahnya…

Alkisah kejadian ini happening saat kami berencana pulang kembali ke pelukan amoy istri di rumah, tepatnya rute Pontianak – Pangkalan Bun, sekitar 60 km dari Pontianak kota. Saat sedang asyik slipstream dibelakang road captain bro Wandy Benelli (terlihat kali ini sang RC agak kelelahan, speed menurun, mungkin kebanyakan sarapan berat saat dihotel hehehe) tiba-tiba bro Anthony dengan MT25 nya menyeruak ke depan dan langsung kasih isyarat gunting, nunjuk tangki motor, trus mukul-mukul helmnya (wah apa ada gunting masuk tangki pikir saya), dan akhirnya kami menepi untuk melihat ada apa sebenarnya….dan pas sekali ada bengkel sekaligus rumah di tepi jalan jadi kami memutuskan langsung kesana.

“Wah tali koplingku putus bro….” keluh bro Anthon, untungya bro Chandra yang juga owner toko variasi motor siap menggelar barang dagangannya dengan kunci-kunci, gir, rantai, tali kopling, sampai keripik keladi khas Ponti… melihat hal ini bro Ical yang juga nyemplak MT25 sekaligus mekanik dan grasstracker langsung cek kondisi kopling MT25 Anthon daaaan…”kabel koplingnya bagus aja bang, sepertinya ada yang putus atau rusak didalam bak kopling” .

IMG-20160321-WA0030
bro Ical dengan cekatan membongkar bak kopling MT25

Lepas knalpot, selang radiator bawah, buka cover bawah untuk melihat sisa pecahan yang tertumpuk daaan….”bearing koplingnya pecah bang…” lanjut bro Ical sambil menunjukkan bearing yang sudah gundul tanpa pelor-pelor kecil yang berguguran didasar case. Makin galau gundah gulana bro Anthon, sialnya ga ada sinyal hape pula untuk minta bantuan ke Pontianak. Bro Wandy dan bro Anthon berkeliling mencari tempat tinggi untuk mendapat sinyal namun nihil. Akhirnya setelah bearing yang pecah kami cek, si bengkeler bilang “kayaknya sama dengan punya MX ini bang….” secercah harapan langsung membuncah menyeruak memenuhi rongga dada kami (focus please no lebay) kemudian si bengkeler memacu motornya kejalan untuk mencarikan bearing milik Jupe Jupiter MX….

IMG-20160321-WA0002
pecahan pelor bearing didasar bak kopling

Sejurus kemudian datanglah si bengkeler, kami bisa tahu dari raungan knalpot Leo Vince bobokan motor bebek ybs…dan membawa bearing dimaksud dengan merk aftermarket yang cukup terkenal, yaitu Komodach*…(terkenal gundulmu le, kalo merk sepatu memang mirip). Dicocokkan dan ternyata memang klop…langsung pasang, isi air radiator dikit, isi oli, daann….vrrroooommm….siap untuk #lampauidirimu

IMG-20160321-WA0032
penampakan bearing asli dan bearing aftermarket milik MX, bungkusnya yang biru dilantai

Wajah bro Anthon terlihat sumringah, kami siap gas lagi setelah hampir 3 jam tertunda…setelah berterima kasih, bayar bengkel dan cipika cipiki akhirnya kami bisa gasss lagi sampai P.Bun dengan lancar, kondisi motor bro Anthon dilaporkan oke sampai di P.Bun meski tetap ganti bearing lagi yang ori Yamaha. Kesimpulannya, bearing kopling Yamaha MT25 sama dengan / bisa substitusi dengan bearing milik MX135, dan kemungkinan sama dengan Vixion, R15, MX King dan Mio Soul….

Mau Tau Rasa Pegel Touring PP 1300 km pake YZF R15 Standar ?

Aaaah…setelah berkutat dengan urusan kerjaan perlu juga refreshing sesekali…buang stress dengan buang tarik gasss,hehe… Rencana touring kali ini adalah ke Kalimantan Barat, tepatnya ibukota provinsi yaitu Pontianak. Dari Pangkalan Bun (Kalteng) ditempuh dengan jarak sekitar 650km estimasi 12 jam perjalanan, kebetulan jalan raya sudah selesai, hotmix, lebar, banyak tikungan asik,sepi…just us and long curvy road…

Skip..skip…akhirnya fix anggota Riders (komunitas penggemar touring, cornering, lintas merk yang penting brotherhood) yang berangkat ada 5 orang termasuk saya. Ada 2 Yamaha MT25, Ninja 250FI, Benelli TNT 250 dan paling imut sendiri Yamaha R15 standard orisinil ting-ting belum ada ubahan apapun pemirsah, odometer baru 6000an motor tahun 2014 kita panggil saja dia Red Dragon Lele Merah biar namanya Indonesia banget….memang tujuannya mau review riding sensation dan ketahanan parts ori bagaimana sih kalo dibawa jauh,hehe…

Akhirnya kami berangkat subuh pukul 05.00 pagi ke Lamandau (hasil tripmeter sekitar 105 km) untuk jemput salah satu rider sekalian isi pertamax di SPBU, diantar beberapa riders lain dan foto-foto sedikit biar kekinian….oya si Lele Merah ikutan isi dan banyak pula minumnya sekitar 8L, hal ini dikarenakan dari P.Bun cuma sisa 2-3 bar sekitar 6L dan menghabiskan sekitar 2 L lebih lah untuk perjalanan 100 km ke Lamandau, cukup irit namanya juga 150 cc single cyl, hehe…

IMG-20160409-WA0007
foto bareng Riders Crew di SPBU Kujan, Lamandau sebelum gas ke Kalbar

Ok, perjalanan ke Kalbar dimulai dari sini….. (Lamandau – Kudangan – Perbatasan Kalbar jarak +/- 150 km), trek mulus, dominan perkebunan sawit, perbukitan dan banyak tikungan-tikungan tajam…riders lain sudah terbiasa jadi bisa melibas tikungan dengan nyamannya, sementara Lele Merah milik SB agak kagok karena belum terbiasa dengan jalanan curam dan blind corner…menurut SB sendiri rute dari Lamandau ke perbatasan dan sekitarnya cukup berbahaya kalau belum kenal jalan, ditambah sisi kiri mayoritas jurang, dan sisi kanan tebing yang banyak menghamburkan pasir dan kerikil di jalan…ban IRC bawaan Lele beberapa kali sempat spinningĀ  akibat hal ini. Oya tempat untuk istirahat disini bisa didaerah Kudangan dan Penopa. Sampai perbatasan ngopi dulu + makan secukupnya (jangan terlalu kenyang), dalam touring jarak jauh yang penting cukup hidrasi dan ga ngantuk, makan sekedar isi perut tapi jangan terlalu banyak.

IMG-20160319-WA0008
isi perut dulu di perbatasan, makanan prasmanan

Lanjut lagi dari perbatasan kita ke Nanga Tayap – Sendai (dari perbatasan sekitar 80 km)…namanya seperti di Jepang rupanya,hehe. Jalan kondisi muluus, tikungannya asiik, Lele mulai terbiasa dan bisa cornering sampai 80-90 kmh dengan mulus dan stabil. Chassis deltabox terbukti stabil melibas tikungan, swing arm nya juga rigid, diajak rebahan emang asik…namun riding position yang nunduk bikin cukup pegel terutama di bagian trapezius (bahu atas), telapak tangan kanan, dan punggung tengah, selain itu masih fine-fine aja. Oya motor bro Wandy sang road captain ini yaitu Benelli TNT 250 ini rupanya cukup unik, seperti moge 4 silinder…raungannya padat jadi suaranya lebih “Nguuung…” bukan “vrrroom…” seperti 250 cc lainnya, warga yang kami lintasi langsung keluar nonton layaknya Anak Jalanan pertunjukan dadakan, anak-anak melambaikan tangan…akh….serasa jadi Rossi yang dielu-elukan fansnya meski helm saya HJC Lorenzo….

Nanga Tayap lumayan rame daerahnya rupanya, tapi kami lanjut terus ngejar SPBU di Sendai sebelum tutup tengah hari, dan sampai Sendai sekitar jam 12 siang, SPBU sudah mau tutup… yang dijual Premium dan Pertamax Plus…wuiiih akhirnya nenggak bensin merah si Lele (untung ga mabuk), isi sekitar 60rbuan atau kurang dikit 6 L…berarti konsumsi bensinnya sekitar 1 : 40, yah mayan irit…larinya juga irit soalnya dibanding yang 250cc hahaa…MT25, N250FI dan Benelli TNT 250 juga minum cukup banyak, sampai ridersnya ikutan minum saking hausnya riding di cuaca terik…untungnya masih minum Mizone bukan ikutan Pertamax Plus…xixixi…

IMG-20160319-WA0012
dibelakang adalah SPBU Sandai yang udah tutup tengah hari, jualannya Pertamax Plus euy..

Lanjut dari Sendai kami langsung tancap gas menuju Pontianak (sekitar 330 km an lagi tersisa), lewat Bekuak, Sanggau…bro Wandy selaku road captain dengan Benelli nya cukup tenang melibas tikungan dengan hi speed, ban belakang Michelin Pilot Road 4 uk 180/55 anteng bener untuk jalan basah dan kering rupanya…kemudian sampailah kami ke Tayan..rute sebelumnya harus menyeberang dengan feri ASDP sekarang rupanya jembatan dengan nama Pak Kasih di Tayan sudah selesai…namun demikian saat kami foto-foto standar motor langsung ambles ke dalam aspalnya. Jembatan dengan panjang 1.6 km ini baru saja selesai dan akan diresmikan Presiden Jokowi hari Selasa 22 Maret atau 4 hari setelah kami lewati kali ini. Jalan sebelum ke jembatan masih mulusss dengan lampu jalan unik berbentuk melengkung, jembatannya sendiri cukup lebar dan besar…keren lah pokoknya…

2 foto diatas saat kami menuju Pontianak dan 1 foto dibawah saat kembali ke Pangkalan Bun bersama 9 riders dari MTRI (Master of Torque Riders Indonesia) Chapter Pontianak, salam brotherhood braders…dari jembatan ini ke Pontianak sudah dekat sekitar 1 jam, syukurlah cuaca sejak kami berangkat cerah padahal sedang musim hujan, dan hujan baru menyapa saat akan masuk kota Pontianak…cukup deras namun tidak lama, dan akhirnya kami masuk kota sekitar pukul 16.30 sore…waooooww macet puooollll pemirsah…jam orang pulang kerja dan akhir pekan rupanya, haduh. Akhirnya setelah beberapa kali tanya sana -sini sampilah kami di hotel Golden Tulip Jl Teuku Umar, parkiran mobil dekat lobby langsung disiapkan pak satpam untuk kami…okelah pelayanannya, secara motor lain diparkir di lahan samping gedung bukan di area hotel. Perjalanan ke Pontianak harus diakui rutenya eksotis dan keren punya pemirsah….kita seperti diajak melewati dunia lain, hutan, bukit, sungai, kelokan ala Mugello (halah) yang suka cornering ini tempatnya, pemukiman warga Dayak asli (babi enjoy aja melintas, awas nabrak ada denda adat yang mahalll) sebelum sampai ke kota besar…emejing lah…

IMG-20160319-WA0007
akhirnya sampai, Hotel Golden Tulip – Pontianak

Overall review Yamaha R15 standar saat dipake touring Pontianak – P.Bun pergi pulang sejauh kurang lebih 1300 km ini adalah :

  1. Riding position cukup bikin pegel di traps, punggung tengah sama telapak tangan kanan.
  2. Handling nyaman, apalagi melibas tikungan anteng bener…
  3. Ban standar masih OK hi speed cornering kondisi kering, 100 kmh masih OK (video nyusul), namun demikian rencana mau ganti dengan yang branded..ukuran naik 1 step aja dari standar biar ga berat dan sesuai standar toleransi velg ori nya….masih rencana…*lirik dompet
  4. Rem depan cukup OK, pas sampe rumah ternyata kampas bagian dalam udah mau habis…hard braking melulu soalnya buat ngejar yang laen…
  5. Untuk power biar ngisi terus terutama melibas corner dengan speed 80 kmh + RPM minimal di angka 8rb keatas, paling sering pake gear 3 bro…
  6. Knalpot senyap kayak matic, raungan mesin jadi lebih dominan…ke depan bakal ane ganti dengan knalpot racing, biar orang juga aware di jalan soalnya beberapa kali ga kedengeran kalo ada motor kencang lele dibelakang lagi slipstream…halah…
  7. Top speed? 2x percobaan di jalur lurus datar cuma dapat 131 km/h…TB 175cm BB 68kg, mau seberapa kenceng sih 150 cc, itu juga udah cukupan kalo buat touring, memang sih kalo jalur lurus diasepin melulu…gahahaha…
  8. See uĀ  again… nunggu jadwal touring berikutnya, huehehe
  9. Kembali bekerja lagi, demi sepasang battlax atau michelin atau metzeler atau pirelli…halaahhh…